"Meski jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri, tapi rasa cemas sangat sulit dihilangkan karena masa depan saya tergantung hasil ujian ini," kata Yusrizal, salah seorang siswa SMA ketika ditemui di Lapangan Merdeka Medan, Minggu.
Ia mengatakan, berbagai persiapan sudah dilakukan, mulai dari mengikuti bimbingan belajar di lembaga nonformal, mempelajari soal-soal ujian tahun sebelumnya, serta mengikuti try out, baik yang dilaksanakan sekolah maupun sejumlah lembaga lain.
"Meski beberapa kali try out yang saya ikuti hasilnya cukup memuaskan, tapi rasa cemas tetap sulit untuk dihilangkan," katanya.
Untuk menghilangkan perasaan yang sering menghantui dirinya itu, Yusrizal mengaku memilih melakukan refreshing untuk menyegarkan pikirannya. "Saya hari ini sengaja jalan-jalan di seputaran Lapangan Merdeka agar pikiran menjadi segar. Saya harus menghilangkan rasa cemas itu karena akan berdampak terhadap konsentrasi saya dalam menjawab soal nantinya," katanya.
Rasa cemas menghadapi UN juga dirasakan Helmy, siswa SMA lainnya yang ditemui di tempat sama. Ia mengaku, dalam beberapa hari ini selera makannya sedikit berkurang karena takut membayangkan gagal dalam UN. "Bayangan tidak lulus UN selalu menghantui saya sehingga muncul rasa cemas. Namun begitu saya tidak boleh larut karena mau tidak mau ujin harus dihadapi," katanya.
Psikolog Universitas Medan Area (UMA), Irna Minauli, menilai, rasa cemas yang melanda siswa menjelang UN justru berdampak positif karena akan membuat mereka lebih maksimal mempersiapkan diri. "Stres saat akan menghadapi ujian merupakan stres yang bagus dan bermanfaat karena hal itu akan menumbuhkan daya juang dan usaha yang lebih dalam mempersiapkan diri," katanya.
sumber: www.kompas.com




Post a Comment